Secercah Cahaya dari Tanah Hajak

Sebut saja desa Hajak sebuah desa yang mungkin kalau kita bayangkan berupa desa kecil yang mana secara lazim kita jumpai di tiap daerah yang notabene sebuah desa yang tidak begitu luas, tapi berbeda dengan desa yang satu ini karena kalau kita saksikan betapa luasnya bumi Kalimantan tengah yang sekarang alhamdulillah saya hadir di dalamnya merasakan atmosfer bumi Palangka Raya dalam sebuah rangkaian dakwah ilallah insya Allah, dan ternyata desa Hajak ini mayoritas penduduknya beragama Nasrani.

Awal yang penuh kesan

Siang itu udara tidak terlalu panas juga tidak dingin melengkapi atmosfer Muara Teweh yang notabene adalah daerah dataran tinggi berbukit dengan hutan yang masih alami dan masih bisa di jumpai pohon-pohon menjulang tinggi mencakar langit.tepatnya bakda ashar 15 Mei 2018,

Sebuah kendaraan Hilux berwarna silver terparkir didepan masjid at Taqwa atas Muara Teweh yang notabene adalah masjid milik salah satu ormas Islam di Indonesia yang salah satu da'i Kafilah Pembelajar Qur'an Nusantara (KPQN) tahun 2017 asal Lampung,yaitu ustadz Nur Khotib dengan taqdir Allah harus nyantol dan dengan istilah di sini jadi danyang di negeri sungai Barito ini. Sapaan salam  yang tulus halus dan  senyum manis, yang mengiringi jabat tangan diantara kami mengawali perjumpaan pertama kami, sebut saja pak Suheri selaku staf HRD (Human Resource Department) atau lugasnya bahasa bagian personalia di Padang Karunia Group (PKG), yang merupakan perusahaan raksasa tambang batu bara di negeri Barito Utara khususnya.

"Ust sholahuddin dari Lampung ya"!

Beliau menyapa saya, "saya Suheri selaku takmir masjid PKG  yang diamanahi untuk menjemput antum,"

"Oh ya pak salam kenal dari saya, saya sholahuddin Lampung yang insya Allah akan bertugas membersamai dakwah bapak di mes Padang Karunia Group.

Tanpa menyebut KPQN pun beliau sudah paham karena memang sudah angkatan ke tiga ini da'i KPQN membersamai para penghuni mes dalam ibadah khususnya di bulan Ramadhan.

Tanpa pikir panjang saya segera berkemas mempersiapkan segala sesuatu yg akan di bawa ke tempat tugas dengan memastikan bahwa barang yg saya bawa tidak tertinggal.

Di mobil sudah ada satu orang sopir yang dibawa pak Suheri, saya masuk dan duduk di bagian depan Hilux,mobil melaju perlahan awal nya belum ada obrolan diantara kami, akhirnya saya buka obrolan dengan bertanya nama,asal dan lain-lain.akhirnya suasana menjadi cair bak air es yg sedikit demi sedikit meleleh ketika di panaskan.

Jarak tempuh yang harus kita lalui selama kurang lebih 30 km dengan asumsi waktu kira-kira 45 menit.melewati pedesaan dan akhirnya masuk ke areal hutan belantara dengan jalan yang naik turun dan berkelok yang menjadikan saya agak ngeri dan deg-deg serr.
Sesampainya di mes, saya langsung diantar ke kamar yang telah di sediakan dengan dilengkapi fasilitas spring bed, lemari dan ruang ber AC.
Tidak lama kemudian lembayung senja pun mulai terlihat menandakan hari mulai Maghrib akhirnya mengawali kegiatan safari dakwah guru ngaji ke pelosok negeri jilid 3,saya langsung di minta menjadi imam, karena memang tugas utama di sini adalah imam sholat lima waktu, kultum bakda tarawih, subuh, dan dzuhur. dan tak kalah pentingnya mencari santri Tsaqifa agar cepat bisa membaca Al Qur'an.

Indahnya Bi'ah Sholihah

Rasa heran dan kaget pun tak bisa di hindarkan menyelimuti jiwa, karena di negeri yang katanya mayoritas non muslim ternyata ada secercah cahaya yang masuk melalui celah bilik mes PKG yang tidak di sangka-sangka sudah terkondisikan ibadah-ibadah ke islaman (sholat jama'ah, tilawah Al-Qur'an dan lain-lain, termasuk Ibadah sholat Jum'at).
Merajut keakraban diantara kami yaitu saya dengan pak Suheri saya banyak bertanya perihal kondisi keislaman di mes ini. insya Allah mayoritas dari  mereka menghidupkan Sunnah Rasulullah shalallahu alayhi wasallam. mulai dari tata cara wudhu dan sholatnya khususnya berpakaian.
Ketika saya tanya apa yang mendasari mereka terkondisikan seperti ini? Apakah ada penekanan dari bagian personalia? Tanda tanya besar bersarang di benak saya.
Pak Suheri menjawab:" ya lingkungan ustadz saya pun ndak memaksakan mereka toh mereka sadar diri diawali rasa malu akhirnya menjadi rasa butuh akan ibadah kepada Allah,"dan tak lepas dari ma'unah Allah dengan didatangkannya da'i yang bisa membimbing mereka yaitu termasuk da'i KPQN yang sudah 3 periode atas kerjasama dengan KEMENAG Kabupaten Barito Utara, yaitu ustadz Ali anNoor, ini di tempatkan di mes kami" lanjut beliau.

Meskipun kondisi ideal ini baru bisa di jumpai di bulan Ramadhan, karena kalau di luar Ramadhan khususnya subuh agak lengang jama'ah nya kecuali 6 orang yang beliau sebutkan yang insya Allah istiqomah. tapi kalau waktu-waktu sholat yang lain khususnya dzhuhur penuh lagi. paling tidak ini sudah menjadi bukti bahwa janji Allah itu pasti wujud. yaitu masih ada orang-orang yang terpilih menjadi wali-wali NYA.
maka bagi saudara-saudaraku khususnya para da'i pedalaman ayok jangan nyerah kerahkan potensi kita kalau lah kita anggap seolah-olah tidak ada harapan lagi untuk menyeru kepada kebenaran tapi Allah sisihkan orang-orang yang masih mau di seru, terkadang kehendak Allah itu tidak bisa di nalar akal sehat tapi itu haq dan datangnya dari Allah.
Ingat pepatah guru besar kita ustadz Umar taqwim Hafidzahullah Ta'ala
Jangan nyerah meskipun antum di tunjuk jadi marketing sisir di biara Shaolin insya Allah tetap laku terjual. Bi idznillah.

Bumi Allah 2 Ramadhan 1439 H.

Al faqir ilallah
Sholahuddin Ali al Lampungi

KPQN RAMADHAN 1439 H