Ifthor Bersama Tokoh Agama & Pejabat Kesra Mamuju Utara

Adzan Ashar berkumandang, awal sore itu terlihat mendung di wilayah pasang kayu (dulu masuk Mamuju Utara sekarang sudah menjadi sebuah kabupaten tersendiri di Sulawesi Barat).


Grimispun mengundang, hawa bulan suci mulai terasa dingin, kendaran matic yang kami naiki berangsur berlahan dan berhenti memasuki lahan parkir di masjid Agung Nurul Huda yang tegak berdiri di depan pesisir Anjungan Fo Pasang Kayu Mamuju Utara, jamaah sholat ashar mulai berdatangan.

Setelah berwudhu kami masuk masjid untuk segera menunaikan sholat sunnah, namun sebelumnya cukup tercengang melihat banyaknya jamaah ashar yang memakai jubah dan gamis panjang begitu pula anak anak kecil mereka memakainya, ternyata Masjid Agung Nurul Huda (NH) markas dari pada JT ( jamaah tabligh). Di sini ada semacam gerakan pembinaan.



Setelah selesai menjalankan sholat, mereka mulai berkumpul  untuk bermajelis mendengar bacaan kitab Fadhilah Amal, saya sedikit merasa tidak biasa dan lebih memilih keluar ke teras karena majelis ini tidak jauh dari tempat saya duduk berzikir setelah menyelesaikan sholat.

Di teras  saya membuka kitab Tsaqifa, metode cepat membaca Alqur' an, untuk saya pelajari agar lebih mengusai metodenya.

Selang kurang lebih setengah jam ustadz Zainudin ( yang setia menemani dan mencarikan titik dakwah saya) mendatangi saya di teras dan mengajak salah satu jamaah JT di perkenalkan ke saya untuk belajar metode Tsaqifa karena ternyata person dari JT ini adalah pensiunan tentara dan sempat menjadi pejabat pemerintah dan terakhir dia memegang kepala bagian dari SatPol PP.

Kami berusaha mrngenalkan metode Tsaqifa kepada pejabat & tokoh yang lain. Kami pun (saya bersama Ustadz Zainudin) mencari person Jamaah Tabligh yang belum bisa membaca Alquran namun setelah ketemu juga masih beralasan , kesimpulanya kami masih belum mendapat ruang , waktu dan santri untuk di ajarkan metode Tsaqifa.

Akhirnya kamipun ngobrol sejenak bersama ustdaz Zainudin bahwa JT di sini (Sulawesi Barat) telah mewarnai pemikiranya mulai tingkat awam hingga para pejabatnya ( Bupati aktif juga ikut JT). Di masjid Agung ini banyak orang JT yang beranggotakan polisi, mantan Anjal (anak jalanan & preman) mereka ( anggota polisi & anjal) katanya semua Ahlu maksiat pemabuk dan penjudi , setelah kedatangan JT mereka bisa berubah, Hijrah dari jahiliyyah ke pemahaman Islam.

Menjelang Maghrib kami bertemu dengan Bapak Drs.Murfhin ketua Kesra ( kesejahteraan rakyat Mamuju Utara) berkenalan belum sempat kita berkata banyak apalagi mengenalkan metode Tsaqifa karena suasana sudah ramai untuk ifthor hingga pembicaraan sulit untuk di dengar, kami akhirnya hanya bisa fhoto bareng bersama beliau Kesra yang katanya simpatisan JT dan ntelah memiliki 3 istri, Subhanallah...

Adzan maghrib berkumandang akhirnya kamipun ifthor bersama.

Terus berjuang dalam dakwah hingga hidayatul bayan sampai kepada mereka

Dai: Mochammad